PKR Biofuel Nyamplung BRIN–UGM Raih Strategic Partnership Award

PKR Nyamplung
0


Yogyakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan nyamplung (Calophyllum inophyllum) sebagai sumber bahan baku biofuel melalui riset terpadu dari hulu hingga hilir. Riset ini mencakup peningkatan produktivitas tanaman, pengolahan minyak menjadi bahan bakar nabati (BBN), hingga pemanfaatan limbah industri melalui konsep tanpa limbah (zero-waste concept) untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.


Pengembangan tersebut dilakukan melalui Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofuel Nyamplung, hasil kolaborasi BRIN dan UGM. Atas kolaborasi tersebut, PKR Biofuel Nyamplung BRIN menerima Strategic Partnership Award dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM pada Senin (21/9). Penghargaan ini menjadi apresiasi atas kemitraan yang telah terjalin sekaligus momentum untuk memperkuat kolaborasi riset dan mendorong hilirisasi hasil penelitian. 


Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin sekaligus dorongan untuk terus memperkuat kolaborasi riset.


“Penghargaan ini menjadi apresiasi terhadap kerja sama yang telah terjalin sekaligus dorongan bagi kami untuk terus memperkuat kolaborasi riset. Kemitraan antara BRIN dan perguruan tinggi penting untuk memastikan riset dan inovasi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.


Budi menjelaskan, nyamplung merupakan tanaman asli Indonesia yang berpotensi menjadi sumber energi terbarukan. Bijinya memiliki kandungan minyak yang tinggi sehingga minyaknya berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku berbagai jenis BBN.


Minyak nyamplung atau Tamanu Crude Oil berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel, biogasoline, dan bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pengembangan bahan bakar berbasis nyamplung juga berpotensi mendukung ketahanan energi dan transisi menuju energi rendah emisi.


Riset BRIN terhadap nyamplung tidak hanya berfokus pada pengolahan minyak menjadi bahan bakar. Penelitian juga mencakup perbenihan, teknik silvikultur, dan pemuliaan pohon untuk meningkatkan produktivitas biji. Selain itu, riset diarahkan pada peningkatan rendemen minyak serta pengembangan teknologi pengolahan minyak mentah (crude oil) agar memenuhi aspek teknis dan keekonomian.


Pengembangan nyamplung juga mencakup pemanfaatan limbah industri melalui konsep tanpa limbah (zero-waste concept) untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. Selain sebagai sumber bahan baku energi, tanaman ini berpotensi dimanfaatkan untuk rehabilitasi lahan dan peningkatan nilai ekonomi kawasan.


Budi menambahkan, nyamplung memiliki kemampuan menyerap karbon yang berpotensi mendukung upaya mewujudkan Net Zero Emission.


“Pengembangan nyamplung tidak hanya berorientasi pada produksi energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi rehabilitasi lahan dan peningkatan nilai ekonomi kawasan. Selain itu, nyamplung berpotensi mendukung terwujudnya Net Zero Emission karena memiliki kemampuan menyerap karbon yang tinggi,” jelasnya.


Menurut Budi, pengembangan teknologi biofuel perlu diikuti dengan penguatan kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri. Sinergi tersebut diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti pada skala laboratorium, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan energi nasional.


“Teknologi konversi biomassa sudah banyak dikaji dan terbukti layak secara teknis. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat hilirisasi dan memastikan dukungan kebijakan yang konsisten,” ujarnya.


Kolaborasi BRIN dan UGM melalui PKR Biofuel Nyamplung menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Kerja sama ini memungkinkan pengembangan pengetahuan dan teknologi secara berkelanjutan sekaligus memperluas peluang pemanfaatan hasil penelitian.


Budi menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya hayati yang besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan. Karena itu, penguatan riset dan inovasi perlu berjalan beriringan dengan hilirisasi serta sinergi kebijakan untuk mendukung kemandirian energi.


“Kemandirian energi itu realistis dan merupakan suatu keniscayaan. Kita memiliki sumber daya dan kapasitas ilmiah yang memadai. Yang dibutuhkan adalah konsistensi riset, inovasi, dan sinergi kebijakan,” pungkasnya. (frw, kf/ed. jnn)


Sumber: https://brin.go.id/news/130505/pkr-biofuel-nyamplung-brin-ugm-raih-strategic- partnership-award

Post a Comment

0 Comments
Post a Comment (0)

#buttons=(Terima, Setuju!) #days=(20)

Kami menghargai privasi Anda, Website PKR Nyamplung ini menggunakan cookies untuk meningkatkan kenyamanan Anda dan membantu kami menganalisis data kunjungan. Dengan mengklik "Terima dan Setuju", Anda menyetujui penggunaan cookies pada browser anda Cek Sekarang
Ok, Go it!
To Top