Nyamplung (Calophyllum inophyllum) merupakan salah satu komoditas asli Indonesia yang memiliki prospek besar sebagai bahan bakar nabati (biofuel). Selain memiliki produktivitas buah dan rendemen minyak yang tinggi, tanaman ini mampu tumbuh pada lahan kritis, tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, serta berpotensi mendukung rehabilitasi lahan dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE).
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Leksono, mengatakan meningkatnya kebutuhan energi dan ketidakpastian pasokan energi fosil mendorong banyak negara mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
“Pengembangan biofuel berbasis tanaman non-pangan menjadi salah satu strategi penting untuk mendukung ketahanan energi sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pangan,” ungkapnya, dalam Webinar Nasional Mahasiswa, Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofuel Nyamplung 2026, bertema “Krisis Energi Global: Peluang Biofuel Indonesia dan Potensi Nyamplung sebagai Feedstock Masa Depan”, Selasa (21/7).
Ia menjelaskan nyamplung dinilai memiliki keunggulan yang sangat kompetitif. Tanaman asli Indonesia ini tersebar luas di berbagai wilayah, terutama pada ketinggian 0–300 meter di atas permukaan laut.
Nyamplung juga mampu tumbuh pada lahan salin maupun lahan kritis, berbuah sepanjang tahun, serta memiliki produktivitas mencapai 15–20 ton buah per hektare per tahun dengan rendemen minyak berkisar 40–85 persen. “Karakteristik tersebut menjadikan nyamplung sebagai salah satu sumber bahan baku biodiesel dan bioavtur yang sangat menjanjikan,” tambahnya.
Budi menyebut teknologi budi daya maupun pengolahan minyak nyamplung saat ini telah dikuasai. Bahkan, limbah hasil pengolahan minyaknya juga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti briket arang, pelet, kompos, pakan ternak, sabun, kosmetik, obat herbal, hingga asap cair.
Hal tersebut menunjukkan pengembangan nyamplung tidak hanya menghasilkan energi terbarukan, tetapi juga mendukung konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan seluruh bagian hasil produksi sehingga mendukung konsep ‘zero waste’.
Budi menerangkan BRIN telah melakukan berbagai penelitian mengenai nyamplung secara berkelanjutan, mulai dari identifikasi sumber daya genetik, analisis keragaman genetik, pembangunan sumber benih unggul, hingga pengembangan teknologi budi daya dan pengolahan minyak. Penelitian tersebut juga mencakup pengujian provenan dari berbagai pulau di Indonesia untuk memperoleh materi genetik terbaik yang memiliki produktivitas buah dan kandungan minyak tinggi.
“Hasil penelitian menunjukkan nyamplung memiliki produktivitas buah yang relatif tinggi dibandingkan beberapa tanaman penghasil biofuel lainnya. Selain itu, rendemen minyaknya dapat mencapai lebih dari 60 persen, bergantung pada asal benih atau faktor genetik dan faktor lingkungan serta metode ekstraksi yang digunakan,” sebutnya.
Menurut Budi, kualitas biodiesel yang dihasilkan dari minyak nyamplung juga telah memenuhi sifat fisiko-kimia SNI Biodiesel, sehingga memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.
Budi mengungkapkan minyak nyamplung juga telah menunjukkan hasil yang menjanjikan sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur pada skala laboratorium. Di sisi lain, kemampuan tanaman ini tumbuh pada lahan terdegradasi dan memiliki kapasitas menyerap karbon yang tinggi, menjadikannya berperan penting dalam rehabilitasi lahan kritis sekaligus mendukung pencapaian target penurunan emisi karbon nasional.
“Nyamplung bukan hanya menghasilkan bahan bakar nabati, tetapi juga memberikan manfaat ekologis melalui rehabilitasi lahan dan peningkatan cadangan karbon. Dengan demikian, pengembangannya dapat mendukung ketahanan energi sekaligus upaya mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Ia menambahkan, meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan bakar nabati berbasis minyak non-pangan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan industri nyamplung secara lebih luas. Namun, keberhasilan pengembangan tersebut memerlukan penelitian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan benih unggul, teknik budi daya, teknologi ekstraksi minyak, pengolahan produk, hingga pembangunan model industri berbasis biofuel.
Budi berharap hasil-hasil riset yang telah dikembangkan BRIN dapat menjadi landasan dalam mempercepat pemanfaatan dan hilirisasi nyamplung sebagai komoditas strategis bahan bakar nabati di Indonesia. “Pengembangan nyamplung memerlukan riset yang berkesinambungan serta sinergi berbagai pemangku kepentingan agar dapat diwujudkan pada skala industri,” pungkasnya. (sh/ed:ade, tnt)
Sumber: https://brin.go.id/news/129511/nyamplung-berpotensi-jadi-bahan-baku-biofuel-sekaligus-pulihkan-lahan-kritis